Curhatan Anak : Matematika Susah ?

“Pgen bljr sm mamahh. Tapi males debat!! apalagi bljr’a mateMATIka, psti debat dlu. mood udh gaenak gni >__<”

Petikan kalimat di atas saya dapat dari seorang teman cilik di FB. Di bawahnya ada tambahan lagi ketika temannya memberi komen tambahan seperti ini : Pasti kalo diajarin mlh ngajariin. Wkwkwkwkwkw sma kyk aku..

Intinya anak berbeda pendapat ketika orangtua mengajarkan matematika pada sang anak.

Tidak hanya curhatan galau sang anak yang saya temukan. Ternyata orangtua pun galau bin sebel mengalami perdebatan seperti itu. Simaklah seorang orangtua murid yang berkata,” Saya nitip anak ya Bu. Kalau saya yang ngajarin, dia suka nggak percaya. Belum apa-apa kami sudah berantem duluan.”

Nah lho ternyata kedua belah pihak sama menderitanya, sama galaunya. Masing-masing merasa bingung dan tidak tahu bagaimana mempertemukan perbedaan pendapat tersebut. Akhirnya ujungnya anak yang ‘ketiban’ susah. Menganggap matematika susah, matematika sulit, tidak enak, dan seribu alasan lainnya.

Bahkan tak sedikit orangtuan yang mengambil kesimpulan bahwa pengajaran matematika sekarang berbeda dengan zaman mereka dulu. “Sekarang, caranya beda ya, Bu. Lebih susah sekarang. Padahal cara kita dulu kan lebih mudah ya?” Begitu salah satu pendapat yang pernah saya terima.

Lalu bagaimana pendapat guru di sekolah? Saya pernah menerima keluhan guru-guru dalam sebuah acara pelatihan yang diadakan salah satu penerbit besar. Ternyata para guru pun tidak terlepas dari kebingungan mengajarkan anak matematika. Bahkan ada guru dan orangtua yang keukeuh mengajarkan apa yang dulu mereka dapatkan? Apakah tindakan ini tepat?

Menghadapi situasi seperti ini, saya kadang tersenyum dulu menanggapi. Bukan kenapa-kenapa, biasanya emosi orangtua sudah terlanjur meninggi saat bercerita. Setelah itu saya lalu bertanya materi dan cara pengajaran yang telah disampaikan. Ternyata……. tak ada yang salah. Lalu kenapa ?

Salah satu penyebab kebingungan anak saat belajar matematika adalah dikesampingkannya logika saat pengajaran. Secara tak langsung, mereka cenderung diminta menghafalkan rumus atau langkah pengerjaan tanpa mengerti mengapa harus seperti itu. Contoh paling nyata saat mengajarkan pecahan senilai.

Mengapa 1/2 dikatakan senilai dengan 2/4, 3/6 dan seterusnya? Lalu keluarlah penjelasan bahwa jika penyebut dan pembilang dikalikan dengan bilangan yang sama maka itu artinya pecahan senilai. Penjelasan tadi lalu langsung diikuti dengan teknik pengerjaan. Anak diberi pecahan 6/12 lalu diminta menuliskan pecahan senilainya pada tempat disamping yang telah bertuliskan …./2.

Nah..itu kan abstrak banget!🙂 Jangankan anak, kita pun sebagai orangtua terkadang lebih sulit menerima penjelasan arah dengan “…belok ke kiri, kira-kira seratus meter ketemu pengkolan belok kanan. Ada rumah warna biru, bla….bal…..” Lebih mudah mana jika melihat peta atau paling tidak digambarkan arahnya?

Kasus untuk pecahan senilai di atas, saya biasanya akan menempelkan alat peraga yang menunjukkan panjang atau besar yang sama. Alatnya sih biasanya mudah, entah pita atau piring kertas yang bisa digunting. Setelah beberapa kali melihat pecahan senilai melalui peragaan, murid biasanya akan lebih siap saat materi abstraknya dijelaskan.

Masih mau bilang matematika susah?🙂

, , ,

  1. #1 by Als on March 22, 2013 - 3:41 am

    Semua pelajaran math ada logikanya kah? Aljabar? Lingkaran? Karena saya kesulitan mempelajari hal trsbt😦 terimakasih.

    • #2 by pintarmatematika on April 17, 2013 - 6:49 am

      sedikit banyak matematika memang harus berlandaskan pada logika. Tidak sekadar menghafal rumus saja.
      Contoh paling sederhana adalah rumus keliling persegipanjang. Tidak hanya sekadar menghafalkan sebagai 2 kali panjang tambah 2 kali lebar. Tapi andaikan kita berlari mengelilingi sebuah lapangan berbentuk persegi panjang. Tentu saja kita akan melewati rute p (panjang)+l(lebar)+ p (panjang) + l(lebar). Itu logikanya.
      Semoga ini bisa membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s